Membangun Media Positif

Media menjadi ujung tombak imformasi yang mencakup banyak tempat. Dari yang terpencil hingga yang ada di pusat keramaian. Media bisa menjadi jalan untuk mendapatkan banyak informasi.

Mulai dari informasi yang berguna hingga tidak berguna. Akhir-akhir ini kesadaran masyarakat kita dalam hal media sangat tinggi. Masing-masing dari kita mulai peduli terhadap “Media” ini.

Pada dasarnya media sendiri merupakan cerminan dari masyaraktnya. Semakin baik masyarakat maka semakin baik pula medianya. Namun hal itu juga berlaku sebaliknya. Masyarakat lokal maupun global sekali lagi memiliki kontrol terhadap media.

Bayangkan saja bila satu masyarakat dalam sebuah negara tidak setuju terkait media yang provokatif atau bahkan bohong, ya mereka bisa merangsek untuk menghancurkan media seperti itu. Hanya saja kalau sampai merangsek pasti masyarakat tersebut akan di labeli “barbar“.

Media pun memiliki peran besar terhadap pelabelan seseorang. Misalkan label toleransi, radikal dan lainnya. Sebagai manusia yang lahir di abad ke 21 ini, sudah seyogyanya kita menjadi masyarakat yang kritis terhadap media.

Karena bagaimanapun, hadirnya media informasi disekeliling kita adalah tanggung jawab bersama. Jangan hanya menyalahkan dan menyalahkan. Dalam negara demokrasi terutama. Setiap masyarakat harusnya jeli dengan banyaknya share-share an di zama now seperti sekarang.

Setiap kali kita mendapati link dari seseorang, hal pertama yang harus dilihat yang sumbernya dulu pasti.

Lagi dan lagi, kita sebagai masyarakat modern memiliki kekuatan yang besar untuk menentukan nasib negeri kita dari media yang tak benar, bahkan berpihak terhadap suatu individu atau kelompok.

Yang harus dipahami saat ini, media baik itu online maupun cetak tidak ada yang independent. Tapi saat ini mereka semua yakni media memiliki keberpihakan. Entah ke arah kiri, kanan, atas, bawah, depan ataupun belakang. Karenanya mari kita berusaha menjadi masyarakat yang bisa memagari media ini.

Jangan sampai media menjadi alat untuk pemecah bahkan penghancur bangsa.

Menjadi Bapak Part3

Adam meyakini satu hal dalam hidup ini. Dalam dunia yang kejam seperti ini, logika menjadi alat utama yang harus dipakai.

“Dunia semakin hari semakin tak jelas” selorohnya saat masuk ke ruang kantor. Adam yakin, saat saat menjadi bapak adalah saat yang bisa menyusahkan hidupnya dia. Karenanya di tahun ini, Adam tak membuat resolusi untuk segera menjadi calon Bapak.

Suatu saat, keputusaanya ini akan berubah dari sebuah keyakinan menuju keputusasaan tiada henti.

Pada akhirnya, Adam merasa jika menjadi seorang Bapak adalah opsi terakhir dalam hidup. Dia berfikir, di kota besar seperti sekarang ini bukanlah saat yang tepat untuk berfikir ke arah sana.

Adam ingin menguras semua masa mudanya untuk karir. Baginya, karir adalah Tuhan yang akan menuntun dia pada kesenangan duniawi.

Nongki-nongki, jalan-jalan dengan siapapun, menghabiskan uang, dan kesenangan lainnya. Namun demikian, Adam tetaplah Adam. Lelaki desa yang tetap taat menjaga diri dari hal-hal yang dilarang orangtuanya.

Adam tetap setia menjaga dirimya dari minum-minuman dan main perempuan.

Seiring berjalannya waktu, manusia akan senantiasa mengalami perubahan dari balita hingga menjadi tua. Itu pula kelanjutan kisah hidup Adam ke depannya.

Akan ada masa di mana waktu memaksa dirimya untuk harus menjadi Bapak.

Menjadi Bapak memamg bukan pilihan, tapi menjadi Bapak adalah karunia Tuhan yang akan senantiasa menghampiri lelaki yang terus mengalami kerontokan umur.

Menjadi Bapak bukanlah pilihan. Tapi ia adalah perintah Tuhan yang akan senantiasa menanti para perjaka.

Menjadi Bapak Part2

Fajar sudah memperlihatkan bentuknya, tapi Adam senantiasa berfikir terhadap apa yang menjadi bahan perbincangan dirinya dan temannya tadi malam.

“Menjadi bapak apa enaknya ya?” pikirnya ketus dalam hati.

Dirinya senantiasa mengingat masa lalu ketika sang Bapak kesusahan dalam mencari uang untuk keluarga, kerja pontang-panting dan masih banyak lagi pikiran di otaknya yang ingin memberi tahu bahwa menjadi bapak bukan hal yang gampang.

Karenanya dia pun berfikir ulang, “Buat apa aku menjadi bapak”

“Toh sepertinya malah akan menjadi sulit”
“Enakan sekarang”

“Tidak ada tanggungan, kemana-mana juga gampang”

Itulah sekelumit pikiran yang berkelebat dalam diri Adam.

Namun lagi-lagi pikirannya yang lain malah senantiasa bilang bahwa, sudah saatnya bagi Adam menjadi Bapak.

Bagi Adam hal demikian adalah hal yang tabu, yang belum maju dia realisasikan sekarang.

Hentikan Basa Basimu

Pernah ga sih ada diantara kita yang sering denger kata-kataini

“Sudah nikah belum?”

“Sudah punya pacar belum?”

“Kuliah di mana?”

“Sekolah di mana?”

“Lulus kapan?”

“Kerja di mana?”

Dan masih banyak lagi pertanyaan menohok yang ga terlalu penting untuk dijawab. Sebenernya apa sih maksud dan niatan dari orang-orang seperti ini menyakan pertanyaan sedemikian rupa. Seperti tak pernah ada habisnya pertanyan itu.

Dulu ketika anda TK atau PG atau apapun itu selalu di tanya TK atau PG di mana? Dan berlanjut ke pertanyaan nanti mau lanjut sekolah di mana? Pada dasarnya pertanyaan di atas semuanya muncul karena rasa sosial orang-orang kita yang tinggi.

Saking tingginya rasa sosial kita menjadi jatuh ke arah kepo akut yang amat sangat berlebihan. Dan tentunya kepo tingkat dewa ini cukup membuat beberapa orang merasa tak nyaman. Alasan itulah yang kadang membuat orang membutuhkan tempat yang sedikit terisolir, mungkin bahasa halusnya private.

Sebenarnya ketika memang anda ingin tahu keadaan seseorang, selayaknya yang haru ditanyakan bukanlah hal demikian.

Tapi justru yang harus ditanyakan adalah “Bagaimana kabarmu?”

“Kamu sehat hari ini?”

“Bagaimana keadaanmu hari ini?”

Pertanyaan diatas tentunya menjadi orang yang ditanya tidak begitu kesal, justru malah mereka akan senang. Karena tentunya merasa diperhatikan. Banyak kejadian bunuh diri yang selama berabad-abad ini terjadi, ya karena masalah pertanyaan yang tak menimbulkan empati pada  si orang yang mau ditanya.

Orang-orang yang berada dalam kondisi depresi ekstra utamanya. Orang-orang seperti ini benar-benar perlu mendapatkan perhatian yang cukup lumayan. Pertanyaan seperti “Kamu kerja di mana sekarang” sebenernya hal yang tak perlu jadi bahan pertanyaan di era seperti sekarang.

Alangkah lebih baik apabila kita menanyakan keadaan kawan kita. Ya atau kalau perlu, sekali-kali ajaklah kawan-kawan disekitar kita untuk berkumpul bersama. Dan tentu pertanyaan yang harus muncul lebih elegan dari biasanya.

“Bro gimana kabarmu hari ini?”

Yaps, jadilah peka terhadap sesamamu. Jangan cuma kepo saja.

Hidup Jangan Cuma Komentar

Jangan hanya komentar

Yap kebanyakan manusia di bumi ini hanya berkomentar tanpa mau terjun langsung

Eh kampret siapapun juga kalo komentar mah bisa-bisa aja. Itulah ungkapan kemarahan yang akan keluar dari mulut beberapa orang yang geram karena hanya cuma dikomentari saja.

Oh men dalam hidup yang fana ini, ayolah jangan berbuat ulah terhadap spesies yang sama dengan anda. Anda kalau emang ga bisa bantu. Ya mingkem aja. Atau kalau perlu ngomong ala kadarnya aja.

“Jangan malah tambah buat orang geram”

Pernah dalam sebuah diskusi, salah satu dosen di Jawa Timur pernah bilang. Orang Jepang itu berbeda sekali dengan orang Indonesia. Itu, adalah kalimat pertama yang meluncur dari bibirnya.

Tentu beberapa orang bertanya tanya dong. Emang bedanya apa, celetuk salah satu peserta diskusi.

Sambil menghela nafas si Dosen langsung bilang. “Orang Jepang itu kalau melihat temannya kesusahan, ga cuma ngasi saran, kritik, dan lain-lain” Itulah kalimat kedua yang mencuat dari perkataan sang Dosen.

Jadi pernah, ada orang sedang kesusahan. Terus yang si Jepang ini ngasi saran. Plus dia juga ikut terjun membantu sang kawan secara langsung. Yap dan akhirnya masalah pun selesai.

Yap, merekalah yang justru memakai asas gotong royong yang selama ini di gagas oleh negera kita tercinta. INDONESIA.

Kita harus malu, karena hanya jadi tukang komen saja. Seengganya berilah mereka bantuan yang bersifat materil. Cuy anda kalau dikasih tahu terkait materil itu jangan hanya terpaku sama Duit. Materil itu bisa berupa tenaga, bantuan alat, dan masih banyak lagi.

Jangan hanya moril yang cuma bialng. SEMANGAT YA. KAMU PASTI BISA. Yaks, itu mah bayi juga bisa ngomong kek begitu.

Menjadi Bapak


“Menjadi Bapak”

Tiba tiba kata itu terngiang di hati Adam.

Mampukan lelaki yang masih berusia muda seperti dirinya menjadi bapak. Kata-kata tersebut muncul kala dirinya nongkrong bareng teman-teman kerjanya.

Malam itu Adam duduk bersama-sama rekan sepertjuangan dalam pekerjaannya. Seperti biasa, makanan pinggir jalan menemani para perjaka di malam itu.

Pekerjaan dikantor selalu menjadi bahan perbincangan mereka. Bahkan kadang sang bos jadi bahan gibahan mereka. Segala sesuatu yang terkait dengan pekerjaan semuanya menjadi bahan gibah pada malam itu.

Namu di malam yang masih menunjukkan pukul 7 ini salah satu rekan Adam tiba-tiba nyeletuk. “Dam lu kalo tiba-tiba jadi Bapak, gimana nanti jadinya?” Adam tiba-tiba ngeliat jam seolah-olah ingin memalingkan muka mendengar pertanyaan menohok dari temannya itu.

“Ngapain nanya kaya gitu” celetuk Adam.

Adam yang sangat mementingkan karir dalam hidupnya ini merasa kesal dengan pertanyaan ganjil semacam itu.

“Ya gue cuma nanya aja, kadang gue kepikiran pertanyaan semacam itu” jawab sang teman.

“Hmmmmmmmm” Adam hanya menghela nafas sambil mengawang melihat banyak kendaraan yang hilir mudik di depan mereka.

Obrolan yang tadinya seru menggibah sang bos kini berubah menjadi sepi. Dan karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Adam pun langsung pamitan ke teman-temannya.

Ditengah perjalan menuju kosan, Adam masih terngiang-ngiang terkait pertanyaan dari temannya itu.

“Iya juga ya” pikirnya dalam hati

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, dan Adam pun merasa keadaan di sekitar semakin hening. Adam teringat dengan kata-kata orangtuanya. Dam menjadi orangtua juga ada masa untuk belajarnya, jangan sampai kamu setelah menjadi Bapak malah nda paham ngurus anak. Kasihan anakmu nanti.

Begitulah bunyi dari percakapannya dahulu dengan orangtuanya.

Malam semakin larut, Adam pun mulai membaur dengan mimpinya.

Perjalanan Menjadi Seorang Ayah


Menjadi ayah, kata kata semacam ini sepertinya sedang terngiang-ngiang dibeberapa rekan kita yang akan segera menjadi ayah. Termasuk saya pribadi. Jujur, menjadi seorang ayah benar-benar membuat saya dan istri cukup terkejut, dan yang pasti senang sih ya 🙂

Ketika pertama kali istri dalam keadaan kontraksi, wah saya sangat terkejut. Bayi yang kami tunggu akhirnya akan segera muncul. Penantian selama sembilan bulan pun terasa amat singkat rasanya. 

Kontraksi dimulai pada pukul 01.00 WIB. Istri pun berkali-kali mengatakan bahwa dirinya kesakitan yang amat sangat. Sebagai suami tentu saya agak sedikit ketakutan. Tapi kita adalah laki-laki bru. Kita harus tetap tenang dan juga menenangkan istri.

Kontraksi terjadi hingga pukul lima dini hari. Setelah subuh saya dan istri pun bergegas untuk pergi ke tempat persalinan. Awalnya hanya berniat untuk mencari tahu apakah kontraksi ini bersifat normal atau bagaimana.

Ternyata memang kontraksi yang ada sudah menunjukkan bahwa istri berada dalam bukaan ke 3. Kami kaget dan pihak perawat pun meminta kami untuk tinggal di tempat karena bayi diperkirakan akan lahir dalam waktu beberapa jam lagi.

Istri pun berada dalam kondisi yang amat parah. Sampai-sampai berkali-kali bilang ingin sc saja tak usah melahirkan normal. 

Yap dan pada akhirnya si buah hati pun meluncur. Syukur our baby bisa lahiran dengan normal. Untuk para ayah sangat disarankan agar ibunda lahir denga cara normal. Karena pemulihan yang akan dilewati cukup dalam waktu sebulan saja.

Bukan untuk menakut-nakuti atau bagaimana, tapi rata-rata orang yang sc harus melakukan pemulihan dalam waktu sekitar 6 bulan bisa lebih. So sebagai ayah anda harus memberikan afirmasi lahiran normal secara terus menerus. 

PS : sc = caesar, sory sengaja dibalik

Memiliki Mindset Besar

Memiliki mindset besar

Adakalanya untuk mendapatkan sesuatu yang besar itu dibutuhkan yang namanya mindset besar. Seseorang dengan pikiran atau mindset kecil dipastikan dirinya hanya akan melakukan sesuatu yang kecil saja. Bagaimana tidak, mindset itu ibarat mesin bagi badan manusia. Jika mesinnya bagus dan juga tenaganya besar bisa dibayangin kan betapa kuatnya si kendaraan baik itu mobil ataupun motor.

Nah, sayangnya bagi bangsa kita indonesia hal tersebut sangat jarang dimiliki.Paling hanya beberapa orang saja. Tapi tetap saja para generasi selanjutnya harus tetap belajar agar menjadi bangsa dengan mindset yang besar.

Memang kita dijajah sudah sangat terlalu lama. Bayangkan 350 tahun kita dijajah. Karenanya mindset untuk jadi budak pun bakal sulit hilang dari bangsa ini. Tapi harus diingat bahwa yang namanya sulit itu bukan berati tidak bisa dirubah, tapi seiring berjalannya waktu pasti bakal bisa dirubah. Cuma ya itu tadi, kita harus sabar dalam proses perubahan menuju bangsa yang pasti akan maju ini

Sekarang mari kita lari ke pokok permasalahan sesuai judul diatas. “Mindset Besar”. Bagaimana sih cara memiliki mindset atau pola pikir semacam itu? Bisakah seseorang atau bahkan bangsa memiliki hal tersebut? dan masih banyak pertanyaan lain yang akan muncul dibenak kita terkait hal tersebut.

Langkah pertama bagi kita untuk memiliki mindset besar adalah hindari atau bahkan jauhi hal-hal yang berbau negatif. Kenapa hal semacam itu perku dimiliki? Mari kita membuat contoh dalam sebuah kisah.

Ada seorang pelajar berkebangsaan Indonesia sedang melaksanakan studi di negara A. Nah, suatu saat pemuda tersebut memiliki kesempatan untuk berhaji dengan tidak perlu antri seperti di kita lo yah hehehe. Singkat cerita pemuda tersebut pulang ke Indonesia dalam keadaan sudah berhaji.

Karena memang pemuda ini berasal dari desa, dirinya seperti para pemuda umumnya menerima tamu dari berbagai desa. Serta melakukan ramah tamah dengan warga sekitar sambil menceritakan ihwal di negara A dia belajar apa dan lain sebagainya.

Jangan Jadi Orangtua Provokatif Tapi Jadilah Konstruktif

Beberapa hari ini, penulis dan istri sempat berdiskusi terkait jenis dan macam macam manusia. Pada hakikatnya setiap manusia senantiasa berbeda. Ada yang pintar ada yang sebaliknya. Namun hanya beberapa orang saja yang menyadari hal itu. Lainnya kaga sadar wkkwkw.

Oke kembali ke laptop! Pada hakikatnya menjadi orangtua adalah anugerah terindah yang diberikan Allah. Amat jarang mereka yang bersyukur dengan hal itu. Karena ketidakbersyukurannya, banyak orang tua yang lupa dengan potensi anaknya.

Dari dulu hingga sekarang banyak orang tua yang senantiasa “angkuh”  terhadapa anak mereka. Ada beberapa orang tua, dalam hal ini penulis menekankan beberapa orang tua karena tidak semua orangtua seperti itu. Sekali lagi ada beberapa orang tua yang “angkuh”  karena merasa sudah hidup lama dan lain sebagainya.

Tapi seyogyanya hal itu jangan dijadikan alasan bagi para orangtua menjadi berlebihan terkait pengalamannya. Setiap anak lahir pada zamannya sendiri. Maka seharusnya dia diedukasi sesuai dengan keadaan zamannya.

Orang tua yang senantiasa mengatasnamakan pengalaman mereka lebih banyak, malah akan menimbulkan kesan orang tua menjadi provokatif. Sebagi orang tua kita harus menjadi lebih konstruktif, agar anak nantinya bisa menghadapi segala macam aral rintangan dalam hidup dengan cara mereka sendiri.

Tentunya harus di garis bawahi dengan cara yang baik.