Menjadi Bapak


“Menjadi Bapak”

Tiba tiba kata itu terngiang di hati Adam.

Mampukan lelaki yang masih berusia muda seperti dirinya menjadi bapak. Kata-kata tersebut muncul kala dirinya nongkrong bareng teman-teman kerjanya.

Malam itu Adam duduk bersama-sama rekan sepertjuangan dalam pekerjaannya. Seperti biasa, makanan pinggir jalan menemani para perjaka di malam itu.

Pekerjaan dikantor selalu menjadi bahan perbincangan mereka. Bahkan kadang sang bos jadi bahan gibahan mereka. Segala sesuatu yang terkait dengan pekerjaan semuanya menjadi bahan gibah pada malam itu.

Namu di malam yang masih menunjukkan pukul 7 ini salah satu rekan Adam tiba-tiba nyeletuk. “Dam lu kalo tiba-tiba jadi Bapak, gimana nanti jadinya?” Adam tiba-tiba ngeliat jam seolah-olah ingin memalingkan muka mendengar pertanyaan menohok dari temannya itu.

“Ngapain nanya kaya gitu” celetuk Adam.

Adam yang sangat mementingkan karir dalam hidupnya ini merasa kesal dengan pertanyaan ganjil semacam itu.

“Ya gue cuma nanya aja, kadang gue kepikiran pertanyaan semacam itu” jawab sang teman.

“Hmmmmmmmm” Adam hanya menghela nafas sambil mengawang melihat banyak kendaraan yang hilir mudik di depan mereka.

Obrolan yang tadinya seru menggibah sang bos kini berubah menjadi sepi. Dan karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Adam pun langsung pamitan ke teman-temannya.

Ditengah perjalan menuju kosan, Adam masih terngiang-ngiang terkait pertanyaan dari temannya itu.

“Iya juga ya” pikirnya dalam hati

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, dan Adam pun merasa keadaan di sekitar semakin hening. Adam teringat dengan kata-kata orangtuanya. Dam menjadi orangtua juga ada masa untuk belajarnya, jangan sampai kamu setelah menjadi Bapak malah nda paham ngurus anak. Kasihan anakmu nanti.

Begitulah bunyi dari percakapannya dahulu dengan orangtuanya.

Malam semakin larut, Adam pun mulai membaur dengan mimpinya.

Perjalanan Menjadi Seorang Ayah


Menjadi ayah, kata kata semacam ini sepertinya sedang terngiang-ngiang dibeberapa rekan kita yang akan segera menjadi ayah. Termasuk saya pribadi. Jujur, menjadi seorang ayah benar-benar membuat saya dan istri cukup terkejut, dan yang pasti senang sih ya 🙂

Ketika pertama kali istri dalam keadaan kontraksi, wah saya sangat terkejut. Bayi yang kami tunggu akhirnya akan segera muncul. Penantian selama sembilan bulan pun terasa amat singkat rasanya. 

Kontraksi dimulai pada pukul 01.00 WIB. Istri pun berkali-kali mengatakan bahwa dirinya kesakitan yang amat sangat. Sebagai suami tentu saya agak sedikit ketakutan. Tapi kita adalah laki-laki bru. Kita harus tetap tenang dan juga menenangkan istri.

Kontraksi terjadi hingga pukul lima dini hari. Setelah subuh saya dan istri pun bergegas untuk pergi ke tempat persalinan. Awalnya hanya berniat untuk mencari tahu apakah kontraksi ini bersifat normal atau bagaimana.

Ternyata memang kontraksi yang ada sudah menunjukkan bahwa istri berada dalam bukaan ke 3. Kami kaget dan pihak perawat pun meminta kami untuk tinggal di tempat karena bayi diperkirakan akan lahir dalam waktu beberapa jam lagi.

Istri pun berada dalam kondisi yang amat parah. Sampai-sampai berkali-kali bilang ingin sc saja tak usah melahirkan normal. 

Yap dan pada akhirnya si buah hati pun meluncur. Syukur our baby bisa lahiran dengan normal. Untuk para ayah sangat disarankan agar ibunda lahir denga cara normal. Karena pemulihan yang akan dilewati cukup dalam waktu sebulan saja.

Bukan untuk menakut-nakuti atau bagaimana, tapi rata-rata orang yang sc harus melakukan pemulihan dalam waktu sekitar 6 bulan bisa lebih. So sebagai ayah anda harus memberikan afirmasi lahiran normal secara terus menerus. 

PS : sc = caesar, sory sengaja dibalik

Memiliki Mindset Besar

Memiliki mindset besar

Adakalanya untuk mendapatkan sesuatu yang besar itu dibutuhkan yang namanya mindset besar. Seseorang dengan pikiran atau mindset kecil dipastikan dirinya hanya akan melakukan sesuatu yang kecil saja. Bagaimana tidak, mindset itu ibarat mesin bagi badan manusia. Jika mesinnya bagus dan juga tenaganya besar bisa dibayangin kan betapa kuatnya si kendaraan baik itu mobil ataupun motor.

Nah, sayangnya bagi bangsa kita indonesia hal tersebut sangat jarang dimiliki.Paling hanya beberapa orang saja. Tapi tetap saja para generasi selanjutnya harus tetap belajar agar menjadi bangsa dengan mindset yang besar.

Memang kita dijajah sudah sangat terlalu lama. Bayangkan 350 tahun kita dijajah. Karenanya mindset untuk jadi budak pun bakal sulit hilang dari bangsa ini. Tapi harus diingat bahwa yang namanya sulit itu bukan berati tidak bisa dirubah, tapi seiring berjalannya waktu pasti bakal bisa dirubah. Cuma ya itu tadi, kita harus sabar dalam proses perubahan menuju bangsa yang pasti akan maju ini

Sekarang mari kita lari ke pokok permasalahan sesuai judul diatas. “Mindset Besar”. Bagaimana sih cara memiliki mindset atau pola pikir semacam itu? Bisakah seseorang atau bahkan bangsa memiliki hal tersebut? dan masih banyak pertanyaan lain yang akan muncul dibenak kita terkait hal tersebut.

Langkah pertama bagi kita untuk memiliki mindset besar adalah hindari atau bahkan jauhi hal-hal yang berbau negatif. Kenapa hal semacam itu perku dimiliki? Mari kita membuat contoh dalam sebuah kisah.

Ada seorang pelajar berkebangsaan Indonesia sedang melaksanakan studi di negara A. Nah, suatu saat pemuda tersebut memiliki kesempatan untuk berhaji dengan tidak perlu antri seperti di kita lo yah hehehe. Singkat cerita pemuda tersebut pulang ke Indonesia dalam keadaan sudah berhaji.

Karena memang pemuda ini berasal dari desa, dirinya seperti para pemuda umumnya menerima tamu dari berbagai desa. Serta melakukan ramah tamah dengan warga sekitar sambil menceritakan ihwal di negara A dia belajar apa dan lain sebagainya.

Jangan Jadi Orangtua Provokatif Tapi Jadilah Konstruktif

Beberapa hari ini, penulis dan istri sempat berdiskusi terkait jenis dan macam macam manusia. Pada hakikatnya setiap manusia senantiasa berbeda. Ada yang pintar ada yang sebaliknya. Namun hanya beberapa orang saja yang menyadari hal itu. Lainnya kaga sadar wkkwkw.

Oke kembali ke laptop! Pada hakikatnya menjadi orangtua adalah anugerah terindah yang diberikan Allah. Amat jarang mereka yang bersyukur dengan hal itu. Karena ketidakbersyukurannya, banyak orang tua yang lupa dengan potensi anaknya.

Dari dulu hingga sekarang banyak orang tua yang senantiasa “angkuh”  terhadapa anak mereka. Ada beberapa orang tua, dalam hal ini penulis menekankan beberapa orang tua karena tidak semua orangtua seperti itu. Sekali lagi ada beberapa orang tua yang “angkuh”  karena merasa sudah hidup lama dan lain sebagainya.

Tapi seyogyanya hal itu jangan dijadikan alasan bagi para orangtua menjadi berlebihan terkait pengalamannya. Setiap anak lahir pada zamannya sendiri. Maka seharusnya dia diedukasi sesuai dengan keadaan zamannya.

Orang tua yang senantiasa mengatasnamakan pengalaman mereka lebih banyak, malah akan menimbulkan kesan orang tua menjadi provokatif. Sebagi orang tua kita harus menjadi lebih konstruktif, agar anak nantinya bisa menghadapi segala macam aral rintangan dalam hidup dengan cara mereka sendiri.

Tentunya harus di garis bawahi dengan cara yang baik.

Hidup dalam Sebuah Keluarga

jika-ingin-berkumpul-dengan-keluarga-di-surga-begini-caranya

Keluarga; menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah orang seisi rumah yang menjadi tanggungan bisa juga berati satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat. Jadi bisa diartikan bahwa hidup dalam keluarga adalah tinggal dalam satuan kekerabatan yang menjadi salah satu dasar pada sebuah masyarakat.

Di Indonesia, kehidupan keluarga terdiri dari berbagai macam. Ada kehidupan keluarga yang tenang, ada yang bermasalah, ada yang sepi ada juga yang ramai diperbincangkan dalam berbagai pemberitaan. Hal ini tentunya bukan hanya berada di Indonesia saja, tapi di negara yang ada di luar sana juga terjadi demikian.

Kehidupan keluarga biasanya di isi oleh seorang ayah, ibu, serta beberapa orang anak. Pada dasarnya keluarga ini akan menjadi berbagi macam warnanya karena ada dua peran utama yakni Ayah dan Ibu. Bisa menjadi berantakan dan menyenangkan, tergantung pada dua orang tersebut.

Ketika keluarga berantakan maka yang akan menjadi korban adalah anak-anak dari keluarg tersebut. Anggaplah ada keluarga yang ibu dan ayahnya senantiasa berbeda pendapat setiap hari. Petanyaannya apakah yang akan terjadi. Tentunya keluarga tersebut menjadi semrawut. Dan yang menjadi masalah besar adalah kesemrawutan ini menimbulkan imbas pada anak-anak yang ada di sana.

Ada dua pilihan yang akan terjadi. Pertama anak akan senantiasa memaksakan dirinya untuk menerima bahwa keluarganya semrawut berantakan. Tapi hal ini bisa menimbulkan anak di depan ayah ibu menjadi anak yang ABS (Asal Bapak ibu Senang), tapi di belakang mereka akan melampiaskan semuanya pada apapun yang bisa mereka lampiaskan.

Ada anak yang ketika di belakang orang tua, mereka senantiasa berbohong di manapun dan kapanpun. Ada juga yang bergaul dengan anak-anak nakal; kenakalan mereka menjadi pelampiasan dari adanya kekangan yang berlebihan dari Ayah maupun Ibu. Bahkan yang lebih parah ada anak yang menghabiskan waktunya dalam narkoba serta peragaulan bebas.

Pilihan kedua adalah, anak akan menjadi pemberontak yang luar biasa untuk orangtua. Tak segan-segan anak-anak seperti berani untuk menentang orang tuanya dalam berbagai macam pendapat. Hal ini juga terjadi karena orang tua memberikan “pendidikan kasar” pada anaknya.

Bila terjadi dua keadaan di atas, tentunya peran orang tua lah yang akan di pertanyakan bahkan mungkin disalahkan.

Namun ada kabar baik, apabila Ayah dan Ibu senantiasa meredam egonya, maka keharmonisan akan timbul. Tapi tetap saja yang namanya kehidupan keluarga pasti ada aja tantangannya. Mulai dari pertengkaran yang kecil, keadaan ekonomi, sandang, papan dan masih banyak lagi. Penulis pun merasa yang namanya masalah itu ada lebih banyak dari pada manusia itu sendiri.

Tapi seperti yang dibilang tadi jika saja ego ini senantiasa diredam, maka pasti ada saja jalan untuk menemukan solusi dari masing-masing masalah tersebut. Selalu dan senantiasalah berusaha untuk menjaga keharmonisan keluarga. Jangan sampai kita yang nanti akan menjadi Ayah maupun Ibu malah lebih mementingkan perasaan orang-orang diluar kelurga kita.

Senantiasa mencari kata-kata manis dari oarang lain. Tapi keluarga senantiasa diabaikan. Bila perkataan orang lain lebih engkau “dewa” bersiaplah menghadapi bencana yang tiada ujung.